DPAC PKB Leuwiwunding Gelar ‘Secangkir Kopi’

Keutuhan NKRI dan tegaknya demokrasi adalah harga mati bagi Gus Dur. Demikian kesimpulan yang muncul dari dialog kebangsaan tadi malam, Kamis (21/1) yang digelar oleh DPAC PKB Kec. Leuwimunding Majalengka. Kegiatan yang diberi label “Secangkir Kopi” ini dihadiri oleh ratusan warga PKB dan NU serta masyarakat umum. Tampil sebagai nara sumber, DR. H. Karna Sobahi M, M.Pd., wakil bupati Majalengka, Nasir, S.Ag Ketua DPC PKB Majalengka dan Drs. Saefullah, Ph.B. Ketua PCNU Majalengka.

Dalam dialog yang berlangsung di halaman sekretariat DPACPKB Leuwimunding ini, Karna Sobahi menuturkan, Gus Dur adalah guru bangsa yang bukan hanya milik warga PKB dan NU, tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia bahkan dunia. “Kiprahnya dalam mengawal demokrasi di negeri ini sungguh luar biasa, hantaman dan fitnah dari berbagai pihak tidak menyurutkan langkah beliau dalam menegakkan demokrasi”, tuturnya.

Sementara Nasir lebih mengungkap pemikiran dan konsep politik Gus Dur dalam berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Gus Dur adalah satu-satunya tokoh politik pada abad ini yang menjadi pelopor munculnya konsep politik kebangsaan. Konsep politiknya mengajak kepada para pelaku politik untuk tidak berorientasi pada pemenuhan kepentingan kelompok dan golongan, melainkan kepada keutuhan NKRI. Ide civil sociaty, pluralisme, kesetaraan gender, penegakan hukum dan HAM dan keberpihakan Gus Dur kepada kaum minoritas adalah bukti konkrit keteguhannya dalam menjaga keutuhan NKRI. Gus Dur juga merupakan pelopor dan pengawal demokrasi, “kita harus jujur, Gus Durlah yang pertama kali membuka kran demokrasi di negeri ini. Saat beliau menjadi presiden, semua warga negera diberikan haknya untuk berserikat dan menyampaikan pendapat. munculnya MMI, HTI dan FUI adalah berkat Gus Dur, mestinya mereka berterimakasih bukan malah membenci Gus Dur”tegas Wakil Ketua DPRD Majalengka ini.

Dalam sesi terakhir, Drs. Saefullah, mengungkapkan pengalaman-pengalaman pribadinya bersama Gus Dur. pada waktu masih kuliah, Aef pernah berkunjung ke kediaman Gus Dur untuk mengundang beliau dalam acara seminar di kampus. Saat itu Gus Dur sedang menghadapi 5 mesin tik. Sambil ngobrol, Gus Dur masih terus bekerja mengetik dari satu mesin tik ke mesin lainnya. Saat selesai ngobrol maka selesai pula Gus Dur mengetik. Penasaran apa yang sedang dikerjakan Gus Dur, Aef memberanikan diri untuk melihat kelima mesin tik. Ternyata, Gus Dur sedang membuat 5 makalah dengan konsep yang berbeda. yang satu ada naskah tentang budaya, satunya tentang tasawuf, satunya tentang politik, satunya hukum, dan satunya tentang pesantren. “luar biasa kecerdasan beliau, saya dan teman-teman waktu angkat topi..”tutur ketua PCNU Majalengka ini.

Ketua DPAC PKB Kec. Leuwimunding, Diding Rosyidin, S.Sos mengungkapkan, acara secangkir ini merupakan agenda DPAC yang digelar secara rutin setiap bulan.”Kami mengharapkan acara semacam ini dapat menjadi media shilaturrahmi, informasi dan komunikasi antar pengurus partai dengan masyarakat umum”, tuturnya didampingi sekretaris Aan Subarhan, S.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: