MUI Khawatir Merebaknya ‘Nikah Wisata’

TegalMusim liburan seperti saat sekarang ini membuat kalangan ulama khawatir dengan merebaknya nikah wisata sebagaimana terjadi di beberapa tempat wisata seperti di puncak Bogor dan dearah wisata lain yang biasanya dikunjungi tidak saja pengunjung domestik tapi dari luar negeri seperti timur tengah

KH Khumaidi, ketua MUI kabupaten Tegal menuturkan, dalam rapat koordinasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah persoalan merebaknya nikah wisata seperti terjadi di puncak Bogor ini menjadi salah satu pembahasan.


“Tidak menutup kemungkinan nikah wisata akan menjadi tren baru di tempat-tempat wisata walaupun masuk daearah dan bukan turis luar negeri,” kata KH Khumaidi pada pertemuan penyuluh agama Islam muda madya, Kemenag Kabupaten Tegal, Selasa (21/12).


Menurut KH Khumaidi, nikah wisata yang banyak dilakukan turis dari Timur tengah dengan  menikahi perempuan setempat hanya beberapa minggu atau hari tergantung perjanjian, adalah nikah Mut’ah yang dilarang dalam agama Islam, walaupun memang pernah terjadi pada jaman Rasulullah.


“Memang nikah Mut’ah pernah terjadi pada zaman Rasulullah ketika perang Tabuk tapi pada saat itu kondisi darurat, kondisi perang, pasukan kaum muslimin barperang dengan memakan waktu lama sementara jarak antara rumah tinggalnya dengan tempat perang itu jauh, sehingga saat itu Rasulullah membolehkan, tapi setelah itu Rasulullah melarang kembali,” katanya.


Dalam pandangan Ahlussunah waljamaah, lanjut KH Khumaidi, para ulama bersepakat, bahwa nikah Mutah itu tidak sah tanpa ada perselisihan pendapat antara meraka. Bentuknya adalah seseorang mengawini perempuan untuk masa tertentu dengan berkata, aku mengawini kamu untuk masa satu bulan, setahun dan semisalnya. Perkawinan ini tidak sah dan telah dihapus kebolehanya oleh kesepakatan para ulama.


“Dalam kitab Ianatutolibin sudah jelas bahwa semua nikah yang ditentukan berlangsungnya sampai waktu yang diketahui ataupun yang tidak diketahui (temporer), maka nikah tersebut tidak sah dan tidak ada hak waris ataupun thalaq, bahkan dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah disebutkan, seandainya ada lelaki mengawini untuk diceraikan lagi pada waktu yang ditentukan, maka perkawinanya tidak sah karena adanya syarat tersebut,” jelasnya.


Dirinya beralasan mengapa hal itu disampaikan di hadapan para penyuluh agama, karena para penyuluh itu kebanyakan para kiai dan ustadz yang bertemu langsung dengan umat. 


“Saya sampaikan disini agar para kiai dan ustadz bisa menyampaikan secara langsung kepada jamaah masing-masing di kampung atau di perkotaan, sehingga nikah seperti itu tidak menjadi tren dikalangan generasi muda sekarang,” tandasnya.


Pertemuan Penyuluh Agama Islam muda madya yang diselenggarakan oleh kantor kemenag kabupaten Tegal itu diikuti oleh 287 penyuluh agama sekabupaten Tegal. Dalam acara itu pula diberikan honor bagi penyuluh agama Rp 400 ribu perorang  untuk 4 bulan yaitu September, Oktober, November dan Desember dipotong pajak. (fth), NU Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: