Membaca Optimisme PKB di 2014

Jakarta – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) optimistis Pemilu 2014 mendatang dapat meraih sukses. Selain ditopang NU, PKB mengaku telah lolos dari ujian konflik internalnya. Apalagi lembaga riset memprediksikan PKB masih bakal survive.

Ketua Umum DPP PKB A Muhaimin Iskandar optimistis pada Pemilu 2014 mendatang PKB dapat menjadi pemenang pemilu. Hal ini tidak terlepas dari relasi PKB dan NU yang diklaim kian membaik.
“Hubungan PKB dan PBNU sangat kondusif. Pemilu 2014 PKB menjadi pemenang pemilu menjadi kewajiban utama dengan pola hubungan ini,” ujarnya dalam sambutan Rakornas II PKB di Jakarta, Minggu (5/6/2011).
Untuk memenuhi ambisi ini, Muhaimin menegaskan, tugas baru PKB menambah pangsa baru dengan meraih konstituennya. Dia menyebutkan pihaknya akan mengalokasikan kursi legislatif bagi buruh sebanyak 10%, profesi bidang ekonomi 10%, dan wartawan 10%. “Ini pangsa baru yang harus digarap PKB,” cetusnya.
Jika merujuk perolehan suara dalam tiga pemilu, memang PKB memperoleh suara yang cemderung fluktuatif, untuk tidak menyebut terus jeblok. Dalam Pemilu1999, partai yang mulanya kuat dengan ikon KH Abdurrahman Wahid ini memperoleh 12,66%, Pemilu 2004 turun menjadi 10,57%, dan Pemilu 2009 lalu jeblok menjadi 4,94%.
Turunnya suara PKB tidak terlepas dari konflik internal yang membayangi partai dengan lambang bola dunia ini. Konflik menjadi persoalan yang kerap terjadi sejak berdirinya partai ini pada 23 Juli 1998.
Konlik menuai puncaknya, sesaat menjelang wafatanya KH Abdurrahman Wahid atau saat Pemilu 2009 lalu. Pendiri PKB sekaligus ikon PKB yakni Gus Dur didepak dari kursi Ketua Dewan Syura PKB digantikan dengan KH Aziz Mansyur.
Muhaimin menyebutkan, pihaknya cukup siap menghadapi Pemilu 2014 mendatang. Karena dalam pandangannya, pemilu terberat yang dihadapi oleh PKB telah dilalui pada Pemilu 2009 lalu. “Bagi kami pemilu yang mahaberat ya pemilu 2009 lalu. Insya Allah kami siap di Pemilu 2014,” ujar Imin di sela-sela peringatan hari lahir Pancasila di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Rabu (1/6/2011) pekan lalu.
Bagaimana sebenarnya potret pemilih PKB saat ini? Hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 5-25 Mei bulan lalu mengungkapkan jika pemilu dilaksanakan saat survei berlangsung, maka elektabilitas PKB memperoleh 4,5% dengan margin eror 3%.
Riset LSI juga mengungkapkan sebanyak 66% pemilih PKB dalam Pemilu 2009 lalu akan memilih kembali jika pemilu dilaksanakan saat survei berlangsung. “Pemilih PKB memang cenderung loyal. Namun ini tidak berarti jika PKB tidak bisa menambah pemilih baru,” ujar Peneiliti Utama LSI Saiful Mujani saat memaparkan hasil surveinya, akhir bulan lalu.
Langkah PKB dengan memberi kuota kepada beberapa profesi bisa saja menjadi jalan keluar untuk menambah ceruk baru pemilihnya. Hanya saja, apakah kelompok profesi tersebut tertarik untuk bergabung dengan PKB?
Persoalannya, PKB hingga saat ini belum menawarkan deferensiasi dengan partai politik lainnya. “Jualan” isu-isu pluralisme, kebangsaan dan keislaman, meski masih cukup kontekstual, namun isu ini tak seseksi awal reformasi 1998 silam.
Persoalam riil di tengah-tengah masyarakat khususnya segmentasi PKB seperti petani dan buruh nyatanya tidak bisa dijawab oleh PKB secara baik. PKB cukup sadar segmentasi petani dan buruh menjadi segmentasi nyata bagi PKB. Sayang, citra ini justru diambil oleh Gerindra, setidaknya dalam Pemilu 2009 lalu, citra Gerindra peduli dengan petani cukup kuat.
Persoalan lain yang tak kalah penting diselesaikan PKB persoalan konflik internal masih menganga di depan. Keberadaan PKB Indonesia pimpinan puteri Gus Dur, Yenny Wahid jelas tidak bisa dipandang sebelah mata. Meski, harus diakui, magnitud Yenny Wahid tak bisa diidentikkan dengan ayahandanya, Gus Dur.
Posisi PKB dalam koalisi pemerintahan SBY-Boediono nyatanya juga tak memberi dampak apapun baik berdimensi positif maupun negatif. Keterlibatan PKB di koalisi tak membuahkan insentif khusus bagi PKB. Begitu juga, keterlibatan ini tak memberi dampak negatif bagi PKB. Setidaknya survei LSI memberi gambaran tersebut.
Meski, PKB yang identik menjadi partai yang tanpa reserve terhadap koalisi justru akan berpotensi negatif. Apalagi jika melihat tren persepsi publik terhadap pemerintahan SBY yang cenderung mengalami penurunan.
Di saat bersamaan, harapan publik justru tertumpu kepada partai oposisi seperti PDI Perjuangan. Artinya, PKB harus melihat tanda-tanda jaman di pemerintahan ini. Mempertahankan posisi membebek terhadap koalisi jelas bukan tanpa risiko negatif. [mdr] INILAH.COM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: