Majalengka Kembali Menjadi Kota Angin

Majalengka– Dalam beberapa hari terakhir suhu udara panas mencapai 33 serajat celcius dan angin bertiup kencang hingga mencapai antara 30 knot terjadi di wilayah Majalengka, meski demikian Badan Metereologi dan Geofisika di Jatiwangi tidak mencatat kemungkinan adanya udara ekstrim atau elnino.
Angin musim kemarau dan udara panas yang menjadi ciri khas Majalengka sehingga Majalengka dijuluki sebagai kota angin kini kembali muncul setelah sekitar beberapa tahun terakhir sempat menghilang. Angin yang datang menderu ini menyulitkan para pengedara sepeda motor ataupun pejalan kaki yang tidak bisa bebas melenggang karena sapuan angin yang kencang. Pengendara sepeda motor yang tengah melaju akan sangat terganggu dengan kencangnya angin ini sehingga akan terasa goyang, terlebih bagi yang menjalankan kendarananya dengan kecepatan tinggi.
Namun demikian para petani buah malah bersyukur karena kembalinya angin Majalengka ini ditengarai bakal menyuburkan kembali produksi mangga yang menjadi potensi Kabupaten Majalengka sebagai penghasil mangga di Jawa Barat. Karena dengan kencangnya tiupan angin ini pembuahan akan sangat baik.
“Angin semenjak bulan puasa kembali datang dengan kencang, angin seperti ini memang kurang mengenakan bagi tubuh karena akan terasa dingin, namun untuk penyerbukan mangga cukup bagus sehingga petani mangga yang beberapa tahun terakhir merugi kini diprediksi akan untung karena bunga akan tumbuh sengan bagus,” ungkap Agus petani mangga.
Hanya sebaliknya dengan tiupan angin yang kencang ini akan sangat cepat mengotori rumah karena angina membawa debu yang bayak. Takheran kalau lantai rumah dan kaca jendela akan cepat kotor dalam waktu beberapa saat.
Menurut keterangan prtugasBMG dari Jatiwangi Tohara, angin tersebut bertiup dari arah Selatan ke Utara, dipastikan angin bukan berasal dari wilayah gunung melainkan dari arah Selatan. Tidak ada pusaran angin yang bakal mengancam terjadinya angina puting beliung apalagi terjadi tornado, karena kondisi angin tetap bertiup normal.
“Suhu udara sementara ini masih batas normal hanya mencapai 33 derajat celcius, itupun suhu tertinggi yang terjadi sementara ini di Majalengka serta Jatiwangi. Suhu udara tertinggi untuk wilayah Kabupaten Majalengka biasanya terjadi di daerah Jatiwangi, namun demikian untuk saat ini masih diambang batas normal,” ungkap Tohara.
Menurutnya, sebelum tahun 2000 suhu udara untuk wilayah Majalengka sempat dikisaran 38 derajat celcius, ketika itu cuaca benar-benar ekstrim kelembabanpun sangat rendah, akibatnya banyak sumur-sumur penduduk yang mengalami kekeringan. Akibatnya wargapun kesulitan air bersih.
Sementara itu kelembaban udara untuk saat ini masih di posisi 45 sehingga sehingga ancaman kekeringan belum nampak. Sumur-sumur di setiap wilayahpun masih berair. Ancaman kekeringan itu sendisi akan muncul disaat kelembaban dibawah 30 atau 25. (C-28/das/Pikiran Rakyat Online)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: