Harapan TKW Majalengka Makin Tipis

Jelang Vonis Pancung, SBY Belum Temui Raja Saudi
Jakarta-Sejumlah elemen masyarakat terus mendesak Presiden SBY bertandang langsung ke Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz, untuk memohon ampunan vonis pancung terhadap Tuti Tursilawati. Pemerintah masih menggunakan kekuatan satgas TKI/WNI yang terancam hukuman pancung sebagai senjata menggalang ampunan.
Kabar tersebut diutarakan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (menakertrans) Muhaimin Iskandar di sela-sela kunjungannya di Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan (BP3) TKI, Ciaracas, Jakarta Timur. Dia mengatakan, khusus untuk menangani ancaman mati yang dijatuhkan kepada Tuti, presiden mengirim dua orang anggota satgas. Mereka adalah Alwi Shihab dan Maftuh Basuni.
Menteri yang sempat terserempet kasus suap Kemenakertrans itu memaparkan, kunci persoalan yang membelut Tuti adalah keluarga korban.” Jika keluarga korban memberikan ampunan, persoalan beres,” katanya. Nah, untuk mengupayakan ampunan ini, kedua anggota satgas tadi diberi tugas untuk menghadap keluarga besar korban, gubernur Makkah, hingga raja Saudi.
“Jika upaya permohonan maaf di tiga titik itu bisa metakinkan, bisa tercapai permaafan,” papar Muahaimin. Dia juga menolak jika Kemenakertrans disebut melepas kasus yang membelit Tuti ini.
Muhaimin menjelaskan, Kemenakertrans terus berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Arab Saudi untuk meng-update perkembangan upaya permaafan kasus Tuti. Kabar terakhir yang didapat Kemenakertrans bulan lalu menyebutkan, keluarga besar korban kejahatan Tuti masih belum mau mengeluarkan pengampunan atau permaafan.
Sebelumnya, Tuti yang berasal dari Desa Cikeusik, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat divonis bersalah oleh pengadilan setempat karena terbutki membunuh majikannya, Suud Malhaq Al Utaibi pada 11 Mei 2010 lalu.
Suud tewas terkapar setelah dipukul setelah dipukul dengan sebatang kayu. TKI kelahiran 6 Juni 1984 itu berangkat ke Saudi melalui PT Arunda Bayu pada awal September 2009 lalu. Keluarga korban untuk sementara menuntut eksekusi mati bagi Tuti setelah musim haji 2011 selesai.
Seperti diketahui, Saudi sampai saat ini masih menggunakan hukum qisas. Jika terbukti membunuh, maka hukumannya dibunuh. Setelah pengadilan menjatuhkan vonis hukuman pancung, pihak keluarga meminta eksekusi dilakukan setelah musim haji 2011 selesai.
Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah menuturkan, hasil dari pertemuan Komisi Tinggi Ham PBB 12 Oktober lalu, terungkap jika sepanjang 2011 pemerintah Saudi telah mengeksekusi pancung 58 orang. ‘Dari jumlah itu, 20 diantaranya buruh migrant,” kata Anis. Diantara yang membuat miris Anis dan rekan-rekannya, dalam pertemuan PBB itu terungkap pula jika Saudi beberapa waktu lalu telah mengeksekusi pancung delapan buruh migrant asal Bangladesh secara bersama-sama.
Anis menjelaskan, ancaman hukuman mati bagi Tuti tidak adil. Sebab, Tuti bertindak sampai membunuhkarena mempertahankan diri dari kebiadaban majikannya. Anis juga pesimis terhadap kinerja satgas pembelaan TKI yang teracam hukuman mati. Sebab, mula dibentuk Juli lalu, satgas belum melaporkan kinerjanya kepada publik. “Ujung tombak upaya pembebasan Tuti sejatinya ada di SBY. Harus melakukan diplomasi tingkat tinggi,” tandasnya. (wan/Radar Cirebon)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: