Garda Bangsa Serukan Jihad Lawan Penjajahan Model Baru

Jakarta – Semangat, etos, dan patriotisme para kiai yang menelurkan Resolusi Jihad sebagai moral perjuangan kaum santri dalam pertempuran melawan sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya, adalah bentuk mempertahankan NKRI.


Ketua Umum Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (Garda Bangsa) Hanif Dhakiri mengingatkan perlunya kontekstualisasi Resolusi Jihad setelah 66 tahun ditelurkan. Sebab saat ini Indonesia dihadapkan pada penjajahan model baru. Bukan lagi serangan fisik, tapi dihadapkan pada globalisme, gerakan fundamentalisme yang lebih bahaya.
Untuk itu, Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa menyerukan kepada segenap anak bangsa untuk mentransformasikan jihad di era globalisasi dengan berjihad membangun negeri, menghadirkan kesejahteraan, menebarkan rasa aman dan kedamaian, serta melanggengkan persatuan dan kesatuan di bumi Nusantara.
Seruan itu tertuang dalam ‘Maklumat Resolusi Kebangsaan’ DKN Garda Bangsa disampaikan dalam acara Dialog Publik “66 Tahun Resolusi Jihad: Sejarah yang Dilupakan” di Kantor DPP PKB, Jl Raden Saleh, Jakarta, Minggu (23/10). Maklumat ditandatangani Ketua Umum DKN Garda Bangsa Hanif Dhakiri dan Sekjend A Malik Haramain.
Menurut Hanif Dhakiri, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Berdasarkan laporan pemerintah Belanda sendiri, peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, pemimpin pesantren, para haji, dan guru-guru ngaji.
“Puncak dari perlawanan itu adalah diselenggarakannya Rapat Besar Nahdlatul Ulama yang mencetuskan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945,” kata Hanif.
Salah satu isi Resolusi Jihad adalah “kewajiban tersebut adalah jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap muslim (fardhu ’ain) yang berada pada jarak radius 94 km (jarak di mana umat Islam diperkenankan shalat jama’ dan qashar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 KM tersebut”.
Oleh sebab itu dalam konteks kini, menurutnya, Pancasila dan NKRI adalah harga mati. Dan jihad membela serta mempertahankan keduanya adalah fardlu ‘ain; kewajiban bagi setiap umat Islam di Indonesia.
“Untuk itu, atasnama Garda Bangsa kami meminta kepada pemerintah dan seluruh rakyat melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhineka Tunggal Ika,” katanya.
Hanif memohon kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk mempertahankan dan mengembangkan Islam Indonesia ala Ahlussunah Wal Jama’ah yang terbukti selama ini telah menjadi perekat keberagamaan dan keberagaman serta telah dipribumisasikan sejak ratusan tahun yang lampau di nusantara ini oleh para Wali Songo, dan para kiai pesantren dalam setiap sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.
Acara dialog dibuka oleh Ketua Umum DPP PKB A Muhaimin Iskandar menghadirkan narasumber sejarawan klasik Agus Sunyoto dan sejarawan modern Asvi Warman Adam. Dialog dimoderatori Nur Budi Haryanto.
Selain itu, acara juga diisi doa bersama untuk para syuhada’ dipimpin Kiai Wahid dan pemutaran film dokumenter Sejarah Resolusi Jihad karya Zainul Munasichin dkk. Film tersebut bercerita tentang sejarah latar belakang dicetuskan Resolusi Jihad oleh Kiai Hasyim Asy’ari yang menginspirasi kaum santri dan rakyat Surabaya untuk bertempur berjihad mengusir penjajah pada 10 Nopember 1945. (FPKB online).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: