Sistem Proporsional Tertutup Permudah Evaluasi Partai

Jakarta – Wacana partai untuk menerapkan sistem proporsional tertutup dalam UU Pemilu mendapatkan dukungan dari akademisi.
Peneliti Departemen Politik dan Hubungan Internasional Center of Strategic and International Studies (CSIS) Philips Vermonte dan Sunny Tanuwidjaja menilai, penggunaan daftar tertutup atau proporsional tertutup pemilih akan dengan mudah mengevaluasi kinerja partai yang mereka pilih. “Sistem pemilu harus mengoptimalkan kesempatan bagi rakyat untuk bisa menghukum partai/politisi yang mereka pilih,” kata Philips saat diskusi “Menyederhanakan Sistem Pemilu” di Kantor CSIS Jakarta, kemarin.
Philips menjelaskan, dengan sistem tertutup, evaluasi oleh pemilih fokus terhadap kinerja partai tersebut di DPR. Bahkan, jika nantinya partai itu yang menjadi penguasa, maka menghukumnya di pemilu juga lebih gampang dengan tidak memilihnya. Apalagi, mekanisme pengambilan keputusan di DPR juga masih didominasi oleh fraksi sehingga tidak tepat ketika pemilih menagih evaluasi dari calon yang dipilihnya.
“Apalagi sistem pengambilan keputusan di DPR memberi penekanan secara menyeluruh kepada anggota DPR secara individual, maka sistem proporsional daftar terbuka menjadi opsi ideal. Tapi kan keputusan tetap didominasi fraksi sehingga ya partai yang harus dievaluasi,” ujarnya.
Sunny Tanuwidjaja menambahkan, sistem proporsional terbuka yang digunakan dalam pemilu 2009 menimbulkan persaingan antarcaleg dari partai yang sama yang pada akhirnya justru melemahkan parpol. Sistem tersebut juga menambah insentif negatif bagi tindak pidana korupsi untuk kebutuhan kampanye.
Selain mengusulkan proporsional terbuka, CSIS juga mengusulkan peningkatan angka parliamentary threshold dan mengurangi jumlah kursi per daerah pemilihan (dapil). Untuk besaran PT, Sunny menilai angka 4-5 % ideal untuk multi-partai sederhana di sistem presidensial. Sementara untuk jumlah kursi per dapil, dia mengusulkan dikurangi menjadi antara 3-7. Tidak seperti sekarang, yang tiap dapilnya dialokasikan antara 3-10.
Sementara itu, anggota Pansus RUU Pemilu Abdul Malik Haramain yang juga hadir sebagai pembicara diskusi tersebut memberikan argumen berbeda.
Menurut Malik, dari sistem yang ada, yaknu terbuka, tertutup, atau campuran sebagaimana ditawarkan cetro ada kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dia mengakui ada kelemahan dari sistem terbuka. Namun, hal itu tidak langsung menyimpulkan bahwa yang terbaik adalah proporsional tertutup. (Sindo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: