Kuatkan Ekonomi Islam, Salam World Gandeng NU

January 9, 2012

IstanbulCuaca kota Istanbul, Turki yang cerah, Sabtu (7/1), menjadi pertanda baik bagi Nahdlatul Ulama (NU) dan Salam World. Keduanya memadu kerja sama yang saling menguntungkan bagi pengembangan budaya dan ekonomi Islam.

Nota kesepahaman (MoU) diteken langsung Chairman Salam World, Ustaz Abdul Vakhid Niyazov dan Ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj di kantor pusat Salam World yang terletak di pinggir selat Bosporus.

“Setelah diawali dengan salat Dzuhur berjamaah dan perbincangan tentang seluk beluk Salam World, keduanya membubuhkan tanda tangan di depan para wartawan internasional maupun lokal,” ungkap Muhamad, seorang pejabat Salam World melalui surat elektronik dari Turki kepada NU Online, Ahad (8/1).

Menurut Muhammad, Ustaz Abdul Vakhid Niyazov asal Rusia yang belum lama ini berkunjung ke Indonesia dan bersilaturahim dengan sejumlah tokoh Indonesia mengungkapkan kegembiraannya atas penandatanganan MoU dengan PBNU 7 Januari lalu.

“Semua ini memberikan bobot yang makin mantap bagi Salam World yang rencananya diluncurkan medio tahun ini. Langkah kami makin tegak dengan bergabungnya NU dalam kerja sama yang saling menguntungkan,” ungkap Niyazov seperti dikutip Muhammad dalam rilisnya.

Sementara itu, Ketua umum PBNU Prof Dr KH Said Agil Siradj yang baru tiba di Istanbul Sabtu dini hari itu mengungkapkan antara Salam World dan Nahdlatul Ulama dapat berjalan seiringan karena memiliki tujuan dan basis yang sama. Keduanya bisa bergandeng tangan membangun peradaban dan menjadi jembatan umat Islam dalam kancah internasional. Meskipun dalam medan yang berbeda, namun keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.

“Nahdlatul Ulama (NU) dapat menyebarkan ide-ide besarnya ke seluruh dunia melalui situs Salam World, sedangkan Salam World bisa mengajak warga NU yang jumlahnya jutaan menjadi penggunanya. Sikap toleransi, hidup rukun dan berkeadilan menjadi landasan kita,” ungkap Kiai Aqil

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Aqil menyatakan, setelah melalui pendalaman substansi konsep MoU dan juga melakukan modifikasi sesuai kebutuhan, maka Ketua PBNU tersebut menyatakan kesediaannya menjadi anggota Executive Board Salam World yang berpusat di Turki. Salah satu tugasnya adalah memberikan masukan bagi arah kebijakan perusahaan.

Sekretaris Jenderal PBNU, H Marsudi Syuhud menambahkan, MoU diniati dengan ketulusan dan saling percaya. Diharapkan dari sini akan berkembang kerja sama lain seperti di bidang ekonomi dan keagamaan.

Lebih lanjut Muhammad menjelaskan, Salam World merupakan situs jejaring sosial berbasis Islam dan berkonten halal pertama di dunia. Diharapkan, situs ini nantinya akan menjadi salah satu alternatif bagi para pengguna internet yang kadang merasa tidak aman dengan konten yang terlalu bebas. (NU Online)


Jaya Suprana : Kirab Resolusi Jihad NU Catat Rekor Dunia

November 25, 2011
Jakarta — Kirab resolusi jihad Nadhlatul Ulama (NU) menorehkan rekor dunia. Pengakuan itu disampaikan oleh pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI), Jaya Suprana, pada puncak acara kirab yang dilakukan di tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat (25/11).

”Pengukuhan rekor dunia ini diberikan untuk kategori kirab bendera merah putih dan NU yang terpanjang di dunia karena telah melewati 35 kabupaten-kota dengan peserta lebih dari 27 ribu peserta,” kata Jaya pada saat pengukuhan.

Pengukuhan rekor ini sekaligus juga mempertebal keyakinan ketua dewan pengarah nasional Kirab Resolusi Jihad, Muhaimin Iskandar. ”Insya Allah tahun depan akan kembali digelar,” ujarnya kepada Republika.

Dalam sambutannya, Gus Imin — demikian ia akrab disapa — kembali menegaskan kirab ini dilakukan sebagai usaha untuk mengingatkan nilai-nilai perjuangan para kiai NU. ”Selama ini resolusi jihad masih belum banyak diketahui masyarakat. Kita berharap dengan adanya kegiatan ini bisa mengingatkan,” ujarnya.

Resolusi Jihad merupakan sebuah momentum bersejarah sebelum pecahnya perang 10 November 1945 di Surabaya. Resolusi ini bertujuan untuk menjaga NKRI dari pendudukan kembali Belanda yang datang melalui NICA. Dari resolusi itu, Rais Akbar NU, KH Hasyim Asy?ari, bersama para kiai NU lainnya menyerukan jihad fi sabilillah untuk mempertahankan NKRI.

Sementara itu Ketua Pengurus Besar (PB) NU, Said Aqil Siradj, menegaskan resolusi jihad ini perlu kembali dihidupkan di dalam generasi muda masa kini. Ia juga mendesak pemerintah agar menyoalisasikan hadirnya resolusi jihad ini ke dalam buku pelajaran sejarah pendidikan nasional. ”Mumpung menteri pendidikannya orang NU. Kan namanya Muh Nuh. Di sana ada NU,” katanya berseloroh.

Kang Said — begitu Said Aqil biasa disapa — juga menegaskan lewat kegiatan kirab ini NU ingin menunjukkan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan paham-paham teroris. Tetapi resolusi jihad yang diusung oleh NU ini adalah untuk menjaga kesatuan Indonesia.

”Teroris itu musuh bersama, tidak hanya polri saja tetapi juga seluruh umat NU di Indonesia,” ujarnya. (REPUBLIKA.CO.ID, )

Charly Jalan Kaki Ikut Kirab Resolusi Jihad, Pantura Macet 10 KM

November 23, 2011

Cirebon  – Dua menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmi Faisal Zaeni, turut serta dalam pawai Kirab Resolusi Jihad di jalur Pantura dengan menaiki Singa Depok (kesenian khas Cirebon), Rabu (23/11) siang.

Selain, dua menteri tersebut, ikut dalam kirab tersebut Charly (mantan vokalis band ST 12). Berbeda dengan menteri, Charly datang berjalan kaki dikawal ketat anggota Banser NU. Acara kirab sendiri dipusatkan di terminal Losari, Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lepas dari Cirebon, rombongan kirab rencananya akan melanjutkan perjalanan ke Indramayu.
Pantauan di lapangan, kedatangan rombongan konvoi kirab dari Jawa Tengah tersebut tak urung memacetkan arus kendaraan menuju Jakarta. Pasalnya lajur pantura (tujuan Jakarta) didominasi anggota kirab. Kemacetan mencapai 10 kilometer yang membentang dari ujung Jawa Barat (Losari) hingga Pantura Brebes (Jawa Tengah).
Kapolres Cirebon Kabupaten Cirebon AKBP Hero Henrianto Bachtiar, pihaknya tidak bisa mengalihkan arus kendaraan yang datang dari arah Brebes menuju Cirebon, karena jalur yang biasa digunakan sebagai jalur alternatif justru berada di sisi panggung, tempat acara kirab. “Tidak ada pengalihan arus,” kata kapolres yang ditemui di jalur pantura Cirebon.
Hingga berita ini diturunkan Pantauan dilapangan, ribuan warga masih berada disekitar acara terminal Losari, lokasi pemusatan kirab resolusi jihad. (Pos Kota)

Kirab Resolusi Jihad, Ratusan Warga NU Arak Merah Putih Dari Surabaya Menuju Jakarta

November 11, 2011
Jakarta – Ratusan massa Nahdlatul Ulama dijadwalkan akan mengadakan kegiatan kirab, guna menyambut Hari Pahlawan 10 November. Acara yang rencananya akan dilaksanakan mulai tanggal 20 – 25 November 2011 ini bertajuk Kirab Resolusi Jihad. Dikatakan oleh oleh Ketua Panitia Nasional Kirab.


Ketua Panitia Kirab yang juga Sekjen DPP PKB,, Imam Nahrawi  Kamis (11/10/2011) di Aula Gedung PBNU Lantai 8, mengatakan nantinya Kirab ini akan mengarak sang saka Merah Putih dan Bendera Nahdlatul Ulama yang dilakukan oleh pasukan jalan kaki, ratusan sepeda motor dan puluhan mobil yang mengibarkan panji-panji Merah Putih dan NU disepanjang jalan mulai dari Surabaya hingga Jakarta selama enam hari perjalanan. 

“Kegiatan ini akan melibatkan ribuan massa NU di setiap kabupaten/kota yang akan dilalui  Kirab Resolusi Jihad. Mereka akan menyambut konvoi kirab dengan menggelar upacara serah terima bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama dan berbagai kegiatan sosial,” kata Imam Nahrawi.

Dikatakan Imam, kegiatan kirab ini dalam pelaksanaannya nanti, akan memberikan santunan kepada keluarga pahlawan, anak yatim, pemberian bea siswa bagi anak berprestasi serta apel pasukan, gelar seni dan budaya lokal, maupun pengajian akbar di daerah yang dilalui kirab Resolusi Jihad.

“Kirab Resolusi Jihad tersebut, tentunya kami harapkan akan mampu menumbuhkan kembali semangat perjuangan, nasionalisme, patriotisme dan spirit rela berkorban demi tegaknya NKRI. Termasuk, mengambil keteladanan dari para kiai dan pahlawan yang dahulu mencetuskan Resolusi Jihad,” ungkapnya.

Lebih lanjut imam menjelaskan, Kirab Resolusi Jihad ini akan dimulai dari monumen Resolusi Jihad di Kantor PCNU Kota Surabaya menuju Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan berakhir di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat. 

“Kirab ini akan mengarak Sang Saka Merah Putih dan Bendera Nahdlatul Ulama oleh pasukan jalan kaki, ratusan sepeda motor dan puluhan mobil yang mengibarkan panji-panji Merah Putih dan NU disepanjang jalan mulai dari Surabaya hingga Jakarta selama 6 hari perjalanan,” jelasnya

Sementara itu, Pengagas Kegiatan Kirab Resolusi Jihad Muhaimin Iskandar dalam sambutannya saat  soft launching di gedung PBNU mengajak masyarakat Indonesia  melanjutkan cita – cita perjuangan ulama untuk kemerdekaan bangsa ini. Menurutnya,  sebenarnya banyak peran dari para ulama dan santri dialam merebut kemerdekaan namun hal ini tidak pernah tercatat secarah utuh dalam sejarah.

Lebih lanjut Cak Imin panggilan akrab Ketua Umum DPP PKB ini menerangkan,  munculnya gagasan kegiatan ini berawal saat Cak Imin bertemu dengan Habib Lutfi  ketika  melakukan perjalanan bersama menuju Jawa Tengah. Saat itu  Cak Imin ditantang  Habib Lutfi untuk berjalan kaki dari Jakarta menuju Surabaya   sambil mengawal Bendera Merah Putih.

“Habib Luthfi merasa miris melihat anak – anak muda sekarang sudah kehilangan jati dirinya dan sudah tidak lagi mau menghargai Bendera Merah Putih”, ungkapnya menirukan perkataan Habib Luthfi.

Selain itu Cak Imin juga melihat kurang populisnya Bendera atau panji-panji NU dikalangan Warga Nahdliyin sendiri sehingga Cak Imin memiliki rasa tanggung jawab untuk kembali memperkenalkan symbol-symbol dan panji-panji NU kepada masyarakat Nahdliyin.  (lie/dpp.pkb.online)


LD-PBNU: Nahdliyin Jangan Tinggalkan Istighotsah

October 27, 2011

Jakarta – Istighotsah adalah salah satu cara para hamba Allah untuk memohon pertolongan dari Sang Pencipta Semesta Alam. Bagi kalangan Nahdliyin Istighotsah merupakan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun selama beberapa generasi. Karenanya, kepada seluruh warga Nahdliyin diharapkan untuk tidak meninggalkan Istighotsah. 

“Meski Hujan badai melanda Jakarta sore tadi, namun di sini kita tetap melaksanakan istighotsah ini sebagai wujud pengakuan kelemahan kita di hadapan Allah. Meski kemacetan merepotkan kita di mana-mana, namun istighotsah senantiasa kita gelar sebagai wujud kecintaan kita kepada amalan-amalan Nahdliyin,” tutur Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU) KH Zakky Mubarok di hadapan ratusan peserta yang memadati halaman Gedung PBNU Jl. Kramat Raya 164 Jakarta, Rabu (26/10) malam.
Dalam acara Istighotsah rutin tersebut, Kyai Zakky -sapaan akrab KH Zakky Mubarok, menjelaskan kepada jamaah, hal terpenting dalam melaksanakan istighotsah adalah kebersihan hati dan keikhlasan mengakui segala dosa-dosa di hadapan Allah SWT.
“Tidaklah perlu manusia berharap akan mendapatkan pujian dari orang lain dalam menjalankan kebajikan. Janganlah manusia menyuruh-nyuruh manusia lainnya untuk berbuat kebaukan, hanya karena ia ingin mendapat penghargaan dari manusia lain,” tandas Kyai asal Cirebon ini.
Lebih lanjut Kyai Zakky menuturkan, para ulama sufi senantiasa memberikan ajaran-ajaran mereka dengan tindakan. Para ulama sufi sangat berhemat dalam mengumbar omongan-omongan, meski itu adalah perintah kebenaran.
“Semisal memerintahkan orang untuk sholat tahajjud atau berpuasa, pada ulama sufi tidak lantas menyuruh-nyuruh orang dengan suara lantang. Cukuplah mereka senantiasa berpuasa dan menjalankan sholat malam, maka murid-muridnya akan mengikuti dan menyebarkan kebajikan sang sufi,” terang Zakky.
Karena itulah, Kiai yang juga dosen Universitas Indonesia itu berharap, warga Nahdliyin tidak meninggalkan tradisi mereka, meski membutuhkan perjuangan untuk menjaga tradisi kebaikan, seperti istighotsah.
“Dengan kita senantiasa beristighotsah, berarti sudah otomatis kita mendakwahkan ajaran-ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang rahmatan lil’alamin ala warga Nahdliyin,” tandasnya. (NU Online)


Kang Said: Ulama Selama Ini Kurang Diperhatikan

October 23, 2011

Surabaya – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meresmikan Monumen Resolusi Jihad NU di kantor PCNU Surabaya, Jl Bubutan VI/2 Surabaya, Ahad, 23 Oktober 2011. Kiai yang akrab disapa Kang Said ini menyampaikan bahwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh NU saat itu adalah bentuk perjuangan yang tidak kecil.


“NU sampai kapanpun akan terus berjuang tanpa lelah memertahankan NKRI dan Resolusi Jihad ini adalah salah satu contoh yang ditunjukkan oleh para ulama namun selama ini kurang diperhatikan,” ujar Kang Said tegas.Isi Resolusi Jihad antara lain mempertahankan Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Ini merupakan fatwa tentang kewajiban perang melawan kaum penjajah dan membentuk laskar perang.Peran para kiai dan santri ketika terjadi perang 10 November di Surabaya tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh para kiai NU. “Warga NU yang ada dalam radius 90 kilometer dari Surabaya saat itu wajib ikut berperang memertahankan NKRI. Dan alhamdulillah berhasil,” paparnya.Kang Said berharap monumen ini bisa dijadikan alat pengingat pentingnya perjuangan para ulama saat memerangi penjajah. Tak hanya itu, monumen diharapkan juga mampu meluruskan arti jihad yang belakangan sering disalahartikan. “Monumen ini juga sebagai kritik jangan sampai yang dilakukan pejuang sia-sia hanya karena kesejahteraan tak kunjung berpihak pada rakyat,” lanjut Kang Said.Akibat acara tersebut, Jl Pahlawan arah Jl Gemblongan Surabaya ditutup total sejak pukul 08.30 WIB. Acara itu juga dihadiri KH Muchit Muzadi, Kakanwil Kemenag Jatim Soedjak, Kabiro Administrasi Kesmas Setdaprov Jatim Thoriq Affandie (mewakili Gubernur Jatim), Ketua DPW PPP Jatim Musyafak Noer, Ketua DPD Partai Golkar (PG) Jatim Martono, mantan Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa (anggota DPR RI), Fandi Utomo (mantan Cawali Surabaya), dan pengurus PCNU se-Jatim.Menurut Ketua PCNU Kota Surabaya KH Saiful Chalim ide pembangunan Monumen Resolusi Jihad telah dicetuskan sejak 2008 oleh PCNU Surabaya. Resolusi Jihad merupakan hasil pertemuan ribuan kiai dan santri se-Jawa dan Madura yang dipimpin KH Hasyim Asyari, Rais Akbar NU di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945. (NU online)


PBNU Tentang Permintaan Pembubaran KPK

October 15, 2011

Jakarta, Kembali munculnya desakan pembubaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang kali ini disampaikan oleh sejumlah oknum anggota DPR RI, ditentang oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Terlepas dari sejumlah personil di dalamnya yang tersandung masalah, KPK dinilai sebagai lembaga yang masih sanggup mengemban amanah pemberantasan korupsi di Indonesia.
Permintaan agar KPK dibubarkan kembali mencuat, setelah Ketua DPR RI Marzuki Alie dan Wakil Ketua Komisi III DPR Fahri Hamzah, menyampaikannya secara terbuka melalui media massa beberapa saat lalu. Permintaan itu sendiri sudah yang kesekian kalinya, setelah sejumlah lembaga dan perseorangan juga sempat menyampaikannya.

“Saya secara pribadi maupun atas nama institusi PBNU, jelas sangat menyayangkan adanya permintaan itu. Bagaimana usaha pemberantasan korupsi yang dijalankan Pemerintah bisa berhasil, jika di saat bersamaan ada pihak yang justru dari wakil rakyat minta lembaga pelaksananya dibubarkan,”

ungkap Kiai Said di Jakarta, Jumat, 14 Oktober 2011. 
Kiai Said menilai, KPK merupakan satu-satunya lembaga di bidang hukum yang masih bisa bekerja dengan baik, terlebih apabila dibandingkan lembaga serupa. Terlepas dari adanya sejumlah anggota KPK yang tersandung masalah dan harus menjalani pemeriksaan oleh Komite Etik, KPK dianggap masih sangat layak untuk terus dipertahankan. 
“KPK itu sekarang masih mendapatkan kepercayaan masyarakat, terlebih kalau dibandingkan lembaga lain seperti kepolisian dan kejaksaan. Makanya sangat tidak masuk akal, terlebih seorang yang menjadi wakil rakyat menyampaikan permintaan agar KPK dibubarkan,” tandas Kang Said, demikian Kiai Said masyhur disapa. 
Kang Said juga mengatakan, menanggapi permintaan dari kalangan DPR tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta arif, dengan tidak mengindahkannya. Pembubaran KPK sama arti dengan mengubur cita-cita pemberantasan korupsi, yang tak lain adalah program utama pemerintahan Presiden SBY. NU Online